,

Viral: Karena Pilkada 2018, Seorang Guru SD Dipecat Karena Beda Pilihan

oleh

Iniberita.news – Saat ini Pilkada 2018 sudah selesai dilangsungkan, Pilkada serentak dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Setelah selesainya Pilkada 2018 kabar mengejutkan menyita perharian seputar Pilkada 2018 ini.

Pada Pilkada Bekasi, sebuah curhatan dari seorang netizen virall di media sosial yang bercerita tentang seorang guru yang dipecat karena diduga berbeda pilihan.

Seorang guru SDIT Darul Maza Bekasi tersebut diberhentikan secara tidak hormat lewat grup WhatsApp.

Pemilik akun bernama Andriyanto Putra Valora mengunggah percakapan antara guru dan pihak yayasan tersebut.

Baca juga:

Ridwan Kamil Jawab Pengorbanan Rabiatul Adawiyah Guru SDIT Darul Maza

Marisa Papen Kembali Dikecam Setelah Tampilkan Foto Telanjang Dirinya di Tembok Ratapan Yerusalem

Hari ini Tes PPDB Surabaya Dilangsungkan, Sebanyak 7.061 Siswa Mengikuti Tes TPA PPDB SMP Kawasan di Surabaya ini

Lirik Lagu ‘The Wonder of You’, Curahan Hati Ahok di hari Ulang Tahun nya

Bangkai KM Sinar Bangun Ditemukan, Tim SAR Siapkan Cara Pengangkatan

Dalam unggahannya tersebut, Andriyanto menuliskan keterangan yang menyebut jika istrinya tidak mau mengikuti arahan pihak yayasan untuk memilih salah satu pasangan calon Gubernur Jawa Barat dan calon Wali Kota Bekasi.

Andriyanto menyebut, istrinya lebih memilih Ridwan KamilUu Ruzhanul Ulum untuk Pilgub Jawa Barat.

Sementara pada Piwalkot Bekasi dia menjatuhkan pilihan pada pasangan Rahmat Effendi-Tri Adhianto Tjahyono.

Berikut ini penuturan lengkap Andriyanto:

SEORANG GURU SDIT DARUL MAZA BEKASI DIBERHENTIKAN DENGAN TIDAK HORMAT HANYA LEWAT WA GROUP KARENA MEMILIH PASANGAN RIDWAN KAMIL DAN UU UNTUK JABAR 1

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarokatuh

Pilkada Gubernur Jabar dan Wali Kota Bekasi telah usai.

Kami ucapkan selamat kepada Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Uu, sebagai pemenang dalam Pilgub Jabar. Dan kami juga ucapkan selamat kepada Bang Pepen dan Mas Tri sebagai pemenang di pilkada Kota Bekasi.

Pilkada hari kemarin, adalah hari yg tidak akan pernah saya lupakan dalam HIDUP, dan saya nyatakan Alhamdulillah tidak salah pilih berada pada poros RINDU dan Pepen+Tri.

Kenapa tidak bisa saya lupakan, karena perbedaan pilihan membuat ISTRI saya dipecat secara tidak hormat di SDIT DARUL MAZA Bekasi hanya dengan cara diberhentikan lewat WA GROUP karena ikut memilih Ridwan Kamil dan UU untuk Jabar 1 beserta Pepen Tri untuk Kota Bekasi yang menurut mereka bersebrangan dengan pilihan mereka, atau visi misi Yayasan Darun najaat Maza.

Sungguh sebuah penghinaan bagi kami, seorang Guru SDIT diberhentikan karena masalah Beda Pilihan dalam PILKADA, miris, dunia Pendidikan dicampurtangankan oleh kepentingan POLITIK oleh oknum yg tidak bertanggungjawab.

Ya Allah…. Semoga ini jalan terbaik bagi kami, terbebas dari orang-orang zalim.

Wassalamu’alaikum.

WA 1

 

wa2

 

wa3

 

wa4

Kabar pemecatan tersebut menjadi viral dan mendapat beragam tanggapan dari netizen.

Namun, pihak sekolah ternyata membantah telah melakukan pemecatan terhadap guru.

Dilansir dari Warta Kota, Tri, salah satu guru dari SDIT Darul Maza Bekasi mengungkapkan sebenarnya itu hanya kesalahpahaman masalah pimpinan dan bawahan tidak ada ada masalah yang lain, apalagi dikait-kaitkan dengan yang lain.

“Jadi sampai saat ini dengan lapang dada para pimpinan kami sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, tadi pagi Alhamdulillah semua sudah memutuskan bahwa semua ini sudah tidak akan ada lagi masalah, sudah meminta maaf kedua belah pihak jadi kita anggap semua sudah selesai,” tuturnya saat ditemui Wartakotalive.com, pada Jumat (29/6/2018).

Ia menjelaskan pihak sekolah tidak pernah mengarahkan untuk memilih salah satu pasangan calon saat Pilkada pada pada Rabu 27 Juni 2018.

“Kita tidak ada arahan, maksudnya tidak ada paksaan memilih hanya memang itu semua kembali lagi ke diri kita kita mau pilih apa kalau memang kita mau pilih nomor 1, 2, 3, atau 4 itu sudah hak kita tidak ada yang di haruskan dan dipaksankan untuk memilih,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak ada kata pemecatan atau dikeluarkan.

“Tidak ada niatan seperti itu, mungkin karena kita memang sedang menghadapi abis ujian, banyak event-event sebelumnya di sekolah kemudian baru pulang kampung juga mungkin semuanya jadi dalam kondisi lelah ada salah ucap ada salah kata itu wajar wajar saja semua orang bisa dalam posisi seperti itu dan itu tidak ada rencana atau kata terucap sebuah keputusan yang sepihak gak ada sebenernya,” tegasnya.

Tri menegaskan kembali soal kabar pemecetan itu sebenarnya tidak ada.

“Ya itu kembali lagi itu hanya kesalahpahaman kata, makanya kan biasanya kalau komunikasi di Whatsapp itu banyak orang salah paham, lebih baik memang komunikasi itu tatap langsung, hindari aja deh komunikasi lewat WA,” tegasnya.

Selanjutnya, ia mengatakan pihak yayasan sudah ke rumah guru tersebut.

“Kebetulan pimpinan kami dengan yayasan ke rumah beliau menjelaskan yang sebenarnya kalau memang menganggap kami salah, kami minta maaf,” ucapnya.

Sementara itu, Robiatul Alawiyah (28), guru yang diberhetikan via WhatsApp dalam viral tersebut mengatakan, pihak sekolah telah datang meminta maaf dan permasalahan ini sudah selesai.

“Viral tersebut memang benar adanya. Tapi tadi pagi dari pihak yayasan sudah ada yang datang ke rumah saya, mereka sudah mengakui bahwa itu kelalaian dari mereka, mereka sudah minta maaf, mereka mengakui bahwa mereka salah, dan dari pihak kami pun dari keluarga besar saya, dari saya pribadi pun sudah memaafkan hal tersebut. Dan kita sudah islah kita sudah damai, dan saya berharap masalah ini tidak menimbulkan masalah yang baru. Kita sudah berdamai kita sudah baik-baik saja,” ujarnya saat ditemui di rumahnya yang tidak jauh dari lokasi sekolah, di RT 01 RW 03 Kelurahan Jatisari Kecamatan Jatiasih, Jumat (29/6/2018).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *