Rentetan Erupsi Selama 10 Hari Terakhir, Gunung Merapi Belum Bisa Dipastikan Bangun Atau Tidak

oleh

Iniberita.news Gunung Merapi tiba-tiba melakukan erupsi freatik secara tiba-tiba di beberapa hari terakhir yang terjadi pada 11 Mei 2018 hingga 21 mei 2018. erupsi freatik yang terjadi pada Gunung Merapi ini sebelumnya mengejutkan warga Yogyakarta dan sekitarnya mengingat tidak ada peringatan dari BPPTKG.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta makin intens melakukan pengawasan aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam pasca-rentetan erupsi freatik selama 10 hari terakhir.

Dalam selang 10 hari, yaitu pada 11-21 Mei 2018, setidaknya telah terjadi tiga kali letusan freatik atau uap air dari Merapi.

Lantas apakah tingginya frekuensi erupsi freatik ini sebagai penanda Merapi sudah bangun dari tidur panjangnya? Gunung Merapi terakhir meletus pada 2010, yang mengakibatkan setidaknya 353 orang tewas.

Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menuturkan, menilik sejarah Merapi, pasca-erupsi magmatik besar yang terjadi pada 1872 dan 1930, gunung itu memang berulang kali mengalami erupsi freatik.

Hanik mengatakan, dari sejarah letusan Merapi itu, jika sudah terjadi erupsi freatik, selanjutnya terjadi erupsi magmatik, yang dampaknya lebih membahayakan.

Baca juga:

Billboard Music Awards 2018 Selesai Diselenggarakan, Inilah Daftar Pemenangnya

Anak Ghaida Tsurayya, Cucu Aa Gym Meninggal Dunia

Video Pencuri yang Todongkan Pistol Setelah Aksinya Terekam, Sikap Istri Pemilik Rumah Bikin Geram Netizer

Hal Ini Bisa Cegah Terjadinya SIDS yang Menyebabkan Cucu Aa Gym Meninggal Dunia

“Jadi, setelah erupsi freatik, freatik, freatik, maka akan tumbuh kubah lava kembali,” ujarnya.

Sedangkan melihat dari aspek jeda waktu letusan Merapi, ujar Hanik, memang ada dua teori yang dapat menjadi acuan. Apakah erupsi freatik itu sebagai sinyal Merapi akan meletus secara magmatik atau hanya fenomena Merapi biasa?

Hanik menuturkan, dari catatan sejarah 115 kejadian erupsi freatik gunung berapi di dunia, sebesar 62 persen letusan freatik itu mempunyai tanda-tanda atau sinyal yang bisa diprediksi. Sedangkan 16 persen kasus tak memberikan tanda-tanda apa pun, dan sisanya masih sedikit memberikan sinyal.

“Jadi, ketika di Merapi ini, erupsi freatiknya ada yang memberi sinyal lebih dulu (akar erupsi) dan ada kasus yang tidak memberi sinyal, itu merupakan hal wajar,” ujarnya.

Yang jelas, ujar Hanik, setelah total sembilan kali Merapi mengalami erupsi freatik sejak letusan besar pada 2010, saat ini BPPTKG belum menemukan tanda ke arah erupsi magmatik.

Dari tanda-tanda seismik dan deformasinya saat ini, Merapi belum memperlihatkan sedikit pun aktivitas magmatik.

Hanik mengatakan sebenarnya yang menjadi salah satu acuan atau deteksi dini untuk memantau aktivitas Gunung Merapi adalah kondisi suhunya. Namun, nyatanya, dalam erupsi freatik kali ini, suhu tak bisa membantu banyak antisipasi dini karena kenaikannya terjadi sangat mendadak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *