Mengapa Ryusia Tidak Mencegah dan Membalas Misil Amerika Serikat ke Suriah?

oleh

Iniberita.news – Amerika Serikat akhirnya benar-benar melakukan serangan ke Suriah. Pasukan gabungan Amerika, Inggris, dan Perancis, meluncurkan serangan udara, Sabtu (14/4/2018) antara pukul 3 – 5 pagi, waktu Moskow.

Nah, mengapa Rusia tak membalas atau mencegah misil tersebut?

Padahal, sebelumnya, pemerintah Rusia merilis pernyataan resmi, akan merontokkan semua rudal dan misil yang ditembakkan ke Suriah.

Dikutip dari kantor berita Rusia, Tass, Kementerian Pertahanan Rusia berdalih tak ada satu pun misil yang melintas ke zona militer Rusia, di Tartus dan Hmeymim.

Tartus dan Hmeymim adalah kota di Suriah yang menjadi pusat pangkalan militer Rusia.

“Tidak ada misil yang ditembakkan Amerika melintas di daerah pertahanan Rusia di Tartus dan Hmeymim,”

“Tak ada sistem pertahanan Rusia di Suriah yang digunakan untuk membalas serangan tersebut,” ujar Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut Tass, misil yang ditembakkan Amerika berasal dari kapal perang milik pasukan koalisi Amerika, Perancis, dan Inggris.

Serangan ini disebut ditujukan untuk 10 target berbeda.

Baca juga:

PAN Beri Penjelasan Soal Pernyataan Kontroversi Amien Rais

Ponsel Untuk Para Gamers Xiaomi Black Shark Resmi Diluncurkan, Ini Spesifikasi

Kemesrahan Jung Hae In dan Son Ye Jin di Drama Korea Pretty Noona Who Buys Me Food, Awas Baper

Beberapa Makanan Ini Harus Dihindari Saat perut Kosong

 

Serangan ini dilakukan, setelah Amerika menuduh pemerintahan Suriah melakukan serangan senjata kimia di Douma, Suriah, hingga menelan korban rakyat sipil.

Pemerintah Suriah dan Rusia menyebut tuduhan ini tak berdasar, dan hanya jadi alasan agar Amerika bisa menghancurkan Suriah.

Asap Pekat di Damaskus

Pemerintah AS, Inggris, dan Perancis akhirnya memutuskan untuk melakukan serangan militer terhadap rezim Bashar al-Assad.

Serangan ini merupakan respon AS terhadap dugaan serangan senjata kimia yang disebut Trump sebagai sebuah “kejahatan seorang monster”.

“Belum lama tadi, saya memerintahkan militer Amerika Serikat untuk menggelar serangan presisi terhadap sasaran yang terkait dengan lokasi pengembangan senjata kimia diktator Bashar al-Assad,” ujar Trump, Jumat (13/4/2018) malam waktu setempat.

Trump menambahkan, operasi gabungan dengan angkatan bersenjata Perancis dan Inggris kini tengah berlangsung.

“Saya berterima kasih kepada kedua negara,” tambah Trump.

Tak lama setelah pernyataan Trump itu, serangkaian ledakan terdengar di ibu kota Suriah, Damaskus pada pukul 01.00 GM atau sekitar pukul 07.00 WIB.

Usai serangkaian ledakan itu, koresponden AFP di Suriah, mendengar suara jet-jet tempur di langit kota Damaskus.

Asap hitam terlihat membubung dari sisi utara dan timur kota terbesar di Suriah itu.

Jenderal Joseph Dunford, salah satu perwira tinggi ternama AS, mengatakan bahwa serangan udara itu menghantam tiga target.

Ketiga target itu adalah pusat riset di dekat Damaskus, fasilitas gudang, dan pos komando juga di dekat ibu kota, serta fasilitas penampungan senjata kimia di dekat Homs.

Jenderal Dunford mengatakan, persenjataan anti-serangan udara Suriah mencoba melawan tetapi sejauh ini belum dikabarkan jatuh korban di pihak sekutu.

Serangan kali ini menandai meningkatnya eskalasi dibanding serangan AS tahun lalu yang hanya mengandalkan misil penjelajah dan menyasar satu pangkalan udara.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Jim Mattis mengatakan, tak ada rencana menambah serangan udara kecuali jika Assad kembali menggunakan senjata kimia.

“Kami sangat terukur dan proporsional, tetapi di saat yang sama ini merupakan serangan yang berat,” kata Mattis. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *