Memiliki Ekor, Apakah Benar Suku Boentoet Berasal dari Indonesia?

oleh

Memiliki Ekor, Apakah Benar Suku Boentoet Berasal dari Indonesia?

IniBerita.News – Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Maka tidak heran jika Indonesia memiliki banyak suku, budaya dan bahasa yang beragam. Bahkan saking banyaknyan suku yang ada, menjadikan Indonesia disebut sebagai negara dengan suku terbanyak yang ada di dunia. Mungkin kebanyakan sudah familiar dengan sebutan Suku Jawa, Suku Suda, Suku Dayak, Suku Batak dan suku-suku lainnya. Suku-suku yang sudah tidak asing ini memang sudah sangat sering menunjukkan eksistensinya sebagai suku yang dikenal oleh khalayak ramai. Meski demikian, masih ada beberapa suku yang tidak diketahui oleh masyarakat, khususnya suku yang ada di pedalaman Indonesia. Tahukah Anda bahwa ternyata ada salah satu suku di Indonesia yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan akan ada di Indonesia, suku tersebut adalah Suku Boentoet. Namun keberadaan suku ini masih dipertanyakan.

Suku Boentoet, Suku dengan Rambut di Atas Pantat

Pertama kali mendengar nama Suku Boentoet mungkin Anda akan langsung membayangkan bahwa suku ini memiliki ekor. Ya, sesuai dengan namanya, orang-orang Suku Boentoet konon katanya memiliki ekor di bagian belakang tubuhnya. Suku Boentoet diketahui merupakan suku yang menghuni hutan pedalaman yang ada di Kalimantan, tepatnya di wilayah pemukiman Keslutanan Pasir dareah tepian Sungai Teweh. Merebaknya kabar tentang keberadaan Suku Boentoet ini menarik perhatian seorang pelancong berkebangsaan Norwegia bernama Carl Bork. Pada tahun 1879, pria kelahiran Denmark ditugaskan oleh Gubernur Jendral Johan van Lansberge untuk menjelajahi pedalaman di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Tujuan dari tugas ini adalah untuk meneliti Suku Dayak.

Baca Juga : Google Doodle Tampilkan Bunga Rafflesia Arnoldii, Mengapa?

Dari penjelajahan tersebut, Carl Bork kemudian bertemu dengan beberapa raja yang ada di wilayah Kalimantan, diantaranya adalah Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Tenggarong dan Sultan Kutai. Di saat yang sama, sang Raja mendapatkan informasi dari abdi kerajaan, Tjiporon. Ia mengatakan bahwa ia melihat ras manusia dengan ekor di belakang tubuhnya di wilayah pemukiman Kesultanan Pasir. Sang abdi kerajaan menceritakan dengan detail mengenai ras suku dalam kepada raja dan Carl Born. Mereka berdua pun mempercayai informasi tersebut. Menurut cerita dari Tjiporon, orang Suku Boentoet memiliki ekor dengan panjang kira-kira 5 sampai 10 cm. Rumah-rumah orang Boentoet memiliki lubang yang digunakan untuk meletakkan ekor mereka saat duduk di dalam  rumah. Kepala sukunya pun memiliki tampulan yang sangar dan memiliki mata serta rambut berwarna putih.

Baca Juga : Sempat Diolok Negara Lain, 4 Penemuan Besar Tiongkok Ini Dipuji-puji

Carl Bork pun penasaran dengan Suku Boentoet sehingga ia memutuskan untuk mencari tahu keberadaan suku tersebut. Dalam pencarian tersebut, ia meminta bantuan Sultan Kutai. Sultan Kutai pun menyurati Sultan Pasir dengan isi surat meminta agar pihak Kesultanan Pasir menangkap sepasang Orang Boentoet. Bahkan Carl akan memberikan imbalan berupa uang sebesar 500 gulden kepada Tjiporon jika berhasil menangkap Orang Boentoet. Namun sepertinya Tjiporon tidak memberikan kabar apapun kepada Carl. Ia pun akhirnya memutuskan untuk tetap mencari Suku Boentoet dengan usahanya sendiri. Carl pun tetap meminta bantuan Sulatn Kutai untuk mengirimkan surat darinya untuk menangkap Orang Boentoet. Namun siapa sangka, hal tersebut mengundang kemarahan Sultan Pasir. Orang Boentoet merupakan orang-orang kepercayaan Sultan Pasir yang tidak mungkin ia serahkan kepada orang lain. Kisah pencarian Carl terhadap Orang Boentoet tertuang dalam bukunya yang berjudul Headhunter of Borneo dan menjadi kisah paling lucu di dalam buku tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *