KPK Gelar OTT dan Menangkap Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf Terkait Dana Otonom Aceh 2018

oleh

Iniberita.news –  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggelar operasi tangkap tangan (OTT) kemari, pada OTT yang digelar kali ini KPK menangkap Gubernur AcehIrwandi Yusuf dan juga Bupati Bener Meriah Ahmadi serta beberapa orang lainnya.

Penangkapan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan Bupati Bener Meriah Ahmadi ini terkait dengan dana otonomi khusus (otsus) Aceh tahun 2018.

Turut diamankan uang sejumlah Rp500 juta dari OTT di Bumi Serambi Makkah tersebut. Irwandi bukan orang baru di pemerintahan Aceh. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2007-2012. Saat itu, Irwandi berpasangan dengan Muhammad Nazar yang maju dalam Pilgub Aceh 2007 lewat jalur independen.

Dihimpun dari berbagai sumber, Irwandi merupakan putra asli Aceh kelahiran Bireuen 2 Agustus 58 tahun silam. Sebelum menduduki jabatan dalam pemerintahan Indonesia, Irwandi merupakan salah satu petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia pernah menjabat sebagai Staf Khusus Komando Pusat Tentara GAM dari tahun 1998-2001.

Baca juga:

Ant-Man and the Wasp Resmi Ditayangkan Marvel, Beginilah Ulasannya

BUMN PT Taspen Mengumumkan Tengah Membuka Lowongan Pekerjaan, Ini Persyaratan dan Posisi yang diperlukan

Dikira Mengandung Susu dan Menyehatkan, BPOM Resmi Nyatakan Susu Kental Manis Tak Mengandung Susu

Pada SBMPTN 2018 ini, ITB Menyatakan Bahwa Mereka Akan Menampung Peserta Sebanyak 1.731

Saat proses rekonsiliasi berjalan dengan pemerintah Indonesia, Irwandi pun ditunjuk sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Setelah Indonesia dan GAM berdamai, Irwandi mulai menapaki politik lokal di Tanah Rencong. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala itu lantas mengikuti Pilgub Aceh pada 2007. Irwandi yang menggandeng Muhammad Nazar menang.

Usai memimpin Aceh satu periode, Irwandi lantas mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA) pada 2012. Dalam keikutsertaannya pada Pemilu 2014, partai berlambang bulan dan bintang dengan bendera oranye itu hanya memperoleh 3 kursi di DPRA. Kemudian, Irwandi merubah nama PNA menjadi Partai Nanggroe Aceh pada 2 Mei 2017. Irwandi pun didapuk menjadi Ketua Umum.

Irwandi kembali memimpin untuk kedua kalinya usai menang Pilgub Aceh 2017. Irwandi yang berpasangan dengan Nova Iriansyah diusung Partai Demokrat, PNA, dan sejumlah partai lainnya. Pasangan gubernur dan wakil gubernur Aceh itu dilantik pada 5 Juli 2017 lalu. Namun, belum genap setahun memimpin Aceh untuk periode yang kedua, Irwandi dicokok tim penindakan KPK lantaran diduga menerima suap terkait dana otsus 2018.

KPK memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan status Irwandi dan pihak-pihak yang ditangkap. Terlibat Korupsi Dermaga Sabang Jauh sebelum ditangkap KPK, Irwandi disebut-sebut turut terlibat dalam kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga bongkar Sabang, Aceh tahun anggaran 2006-2011.

Irwandi yang saat proyek bergulir menjabat sebagai gubernur Aceh turut kecipratan uang proyek yang ditaksir merugikan negara sekitar Rp313 miliar. Dalam putusan mantan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Ruslan Abdul Gani, Irwandi disebut turut diperkaya sebesar Rp14,06 miliar. Namun, ia membantah menerima uang dari proyek senilai Rp793 miliar.

Irwandi juga sempat diperiksa sebagai saksi saat perkara Ruslan yang pernah menjabat Bupati Bener Meriah itu dalam tahap penyidikan, pada Mei 2016 lalu. Saat ini, KPK kembali mengusut kasus dugaan korupsi proyek pembangunan dermaga bongkar Sabang dengan menetapkan dua korporasi sebagai tersangka. Kedua korporasi itu adalah PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *