Ini Penyebab Banyaknya Korban Tewas Di Sungai Mahakam, Warga Samarinda Harus Waspada

oleh

IniBerita.News – Kasus tewasnya orang di sungai Mahakam, bukanlah hal baru terjadi. Namun, kejadian tersebut telah kerap terjadi, dengan jumlah korban yang tidak sedikit.

Tercatat, terdapat sekitar 10 korban tewas tenggelam di sungai Mahakam, hingga ke anak sungainya di Samarinda, sejak Januari hingga awal Maret ini.

Rata-rata korban tenggelam baru ditemukan sekitar tiga hari kejadian, dan semua korban yang tenggelam, ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia.

“Kasus yang terjadi di Samarinda, semuanya ditemukan dalam kondisi telah meninggal, dan rata-rata ditemukan tiga hari setelah kejadian,” ucap Kepala Unit Siaga SAR Samarinda, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Balikpapan (Basarnas), Dede Hariana, Kamis (1/3/2018).

Lanjut dia menjelaskan, faktor yang mempengaruhi cepatnya korban ditemukan, yakni banyaknya personel yang melakukan pencarian, berasal dari Basarnas, kepolisian, LSM relawan, hingga warga sekitar.

Baca Juga : Anak Pertamanya Lahir, DJ Una Unggah Foto Sang Bayi sambil Tulis Caption Menyentuh

Lalu, perkiraan lokasi munculnya korban, termasuk fakto cuaca. “Kalau cuaca mendukung pencarian dapat maksimal, kalau hujan pencarian pasti dihentikan terlebih dahulu,” tuturnya.

Sementara itu, Dede juga menjelaskan faktor dari tenggelamnya korban di sungai, mulai dari kurangnya memperhatikan keselamatan, terutama warga yang kerap menggunakan perahu di sungai, faktor kelalaian dan pengawasan orangtua yang kurang terhadap anak-anaknya yang bermain di sungai.

“Kalau sedang naik perahu, biasanya warga tidak menggunakan life jacket, walaupun bisa berenang, tetap harus gunakan, karena arus dan luasnya sungai ini,” ungkapnya.

“Jika korbannya anak-anak, orangtua harus lebih perhatikan lagi saat anak-anaknya bermain, berenang di pinggir sungai, bisa membahayakan, karena tidak sedikit korban tewas tenggelam anak dibawah umur,” tambahnya.

Lalu, sesuai dengan ketentuan yang ada, pencarian terhadap korban tenggelam hanya dilakukan selama tujuh hari, dari pagi hingga sore hari.

Sedangkan malam hari tidak diperkenankan untuk melakukan pencarian. Namun, pencarian dapat dilakukan jika ada tanda-tanda korban ditemukan.

“Pencarian cukup terbantu dengan banyaknya relawan yang turut serta, namun hingga saat ini peralatan maupun perlengkapan masih terbatas,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *