Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran, Kamu Harus Tahu!

oleh

Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran, Kamu Harus Tahu!

IniBerita.News – Selama ini, mungkin kita mengenal nama-nama ilmuwan populer sebatas Albert Einstein, Thomas Alva Edison atau Nikola Tesla. Namun, apakah kita tahu siapa saja ilmuwan-ilmuwan Muslim? Walau namanya tak sepopuler semua ilmuwan di atas, namun jasa mereka tidak kalah apabila dibandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan Barat yang disebutkan tadi. Termasuk di antaranya adalah ilmuwan Muslim di bidang kedokteran. Bisa dibilang bahwa perkembangan dalam dunia kedokteran tidak lepas dari peran para ilmuwan Muslim tersebut. Merekalah yang mempelajari, meneliti serta mempraktekkan ilmunya serta meletakkan pondasi untuk ilmu pada bidang kedokteran. Berikut adalah beberapa ilmuwan Muslim pada bidang kedokteran yang dianggap paling berpengaruh.

Tiga Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran Dengan Pengaruh Paling Besar

  • Pertama ada Muhammad bin Zakariya ar-Razi atau kerap dipanggil ar-Razi. Ia lahir pada 28 Agustus 865 Masehi dan meninggal pada tahun 925 Masehi. Nama Razi berasal dari kota Rayy yang ada di dataran tinggi Alborz dekat Teheran, Iran. Di kota yang sama, Ibnu Sina menyelesaikan nyaris seluruh karyanya. Ar-Razi kecil memiliki keinginan menjadi musisi, namun akhirnya ia lebih tertarik mendalami alkemi. Di usia 30 tahun, ar-Razi berhenti menekuni alkemi karena eksperimen yang dilakukannya membuat matanya cacat. Ia lalu mencari dokter yang dapat menyembuhkan mata, dan dari sinilah timbul minat ar-Razi untuk mempelajari ilmu kedokteran. Di dunia Barat, ar-Razi dikenal dengan nama Rhazes dikenal sebagai pakar sains Iran serta salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah Islam. Salah satu bukunya yang berjudul Al-Judari wal-Hasbah atau Cacar dan Campak telah diterjemahkan dalam bahasa Latin serta bahasa-bahasa Eropa lainnya. Ia juga dikenal sebagai ilmuwan yang menemukan penyakit alergi serta pertama kali menulis seputar imunologi.

  • Kedua ada Abul Qasim az-Zahrawi yang dianggap sebagai Bapak Operasi Modern. Ilmuwan yang dikenal dengan nama Abulcasis di Barat ini adalah salah satu pakar kedokteran pada Abad Pertengahan. Salah satu karyanya yang populer adalah Al-Tasrif yang terdiri atas 30 jilid. Isinya antara lain ialah gigi serta kelahiran anak. Buku ini juga telah diterjemahkan dalam bahasa Latin di abad ke-12 dan menjadi sumber utama bagi pengetahuan di bidang kedokteran di benua Eropa. Kehebatan az-Zahrawi dalam bidang bedah juga telah diakui oleh sejumlah dokter di Eropa. Sosok serta pemikirannya dikagumi para dokter serta mahasiswa kedokteran Eropa di zamannya. Kitab Al-Tasrif masih tetap menjadi pegangan hingga era Reanissance. Bahkan hingga abad ke-16, kitab ini masih menjadi rujukan ahli bedah asal Prancis.

  • Berikutnya ada Ibnu al-Nafis. Ilmuwan satu ini adalah orang pertama yang mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia secara akurat pada tahun 1242. Al-Nafis juga menjadi orang pertama yang mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Karya-karyanya tak tercatat hingga akhirnya ditemukan di Berlin, Jerman pada 1924. Sebagai dokter, Nafis tak pernah puas dengan ilmu yang ia miliki. Dirinya terus memperkaya pengetahuan melalui aneka observasi. Hal ini membuat namanya kian populer dan dikenal sebagai dokter muslim dengan pendapat serta pemikiran yang murni, serta bebas dari pengaruh Barat. Dalam studinya, Ibnu Nafis terutama menggunakan aneka metode. Termasuk di antaranya adalah observasi, percobaan serta survey. Nafis juga mempelajari kedokteran melalui pengamatan pada sejumlah unsur serta gejala yang dapat mempengaruhi tubuh. Penemuannya yang paling menarik terutama adalah seputar peredaran darah pada paru-paru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *