Fakta Mengejutkan Tentang Pengakuan Keluarga Marsinah Sang Pejuang Hak Buruh

oleh

Iniberita.news Seluruh dunia tengah memperingati hari buruh Internasional atau yang biasa disebut May Day 2018 pada 1 Mei 2018 ini, berbagai cara dilakukan oleh seluruh buruh di dunia ini untuk memperingatinya. Namun di Indonesia hari buruh atau May Day sangat berkaitan dengan sosok pejuang buruh asal Nganjuk Marsinah.

Marsinah merupakan buruh yang memperjuangkan hak para buruh.

Dia meninggal 25 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1993 lalu.

Baru-baru ini makamnya dikunkungi oleh Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Meski demikian, Khofifah tak hanya ziarah ke makam pejuang buruh Marsinah.

Namun Khofifah juga bertandang ke rumah keluarga Marsinah yang ada di Desa Nglundo Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk, Selasa (1/5/2018).

Khofifah bersapa langsung dengan paman dan bibi Marsinah, yang menjadi pengasuh Marsinah sejak kecil di Nganjuk.

Mereka adalah Paklik Paerah dan Bulik Sini.

Baca juga:

Kerja Bakti Digelar Saat Memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2018

GFriend Bercerita Beberapa Pengalaman Menarik Setelah Rilis Album Baru Berjudul ‘Time For The Moon Night’

Dihukum Mandi Dengan Oli, Begini Kondisi Terakhir Sang Bocah

Berikut Beberapa Ciri-ciri Orang Dengan EQ yang Lemah

Saat di kediaman keluarga Marsinah tersebut, Khofifah berbincang dan menyempatkan diri untuk melihat pernghargaan-penghargaan yang diterima oleh Marsinah sejak perjuang buruh itu meninggal.

“Insya Allah Mbak Marsinah mulia kedudukannya. Sekarang banyak yang mendoakan. Kemuliaan orang biasa terlihat saat sudah meninggal,” ucap Khofifah.

Lebih lanjut, keluarga Marsihan, Paklik Paerah, mengatakan sejak kecil Marsinah memang dikenal sebagai anak yang rajin dan pekerja keras.

Sejak kecil Marsinah selalu rajin membantu kakeknya yang berjualan gabah.

Tak segan Marsinah ke sawah untuk membantu keluarganya.

“Kalau kerja, pulangnya malam, tahu-tahu subuh sudah berangkat lagi begitu terus,” kata Paklik Paerah.

Saat masih sekolah, Marsinah juga anak yang mau membantu orang tua.

Ia juga jualan gorengan ke sekolah.

Saat sudah bekerja di Surabanya, setiap kali pulang kampung ia juga berjualan kerudung untuk tambahan penghasilan.

Saat tahu Marsinah wafat, ia mengaku sangat terpukul dan kehilangan.

Terlebih Marsinah meninggal di usia muda, 24 tahun.

Ia meninggal saat memperjuangkan hak-haknya sebagai buruh.

Namun keluarga mencoba ikhlas.

Dan percaya saat ini sudah banyak yang mendoakan Marsinah.

Sementara itu, Khofifah mengatakan perjuangan Marsinah dicatat oleh sejarah, dan membuat pemerintah serta pengusaha semakin perhatian dengan kesejahteraan buruh.

Namun menurutnya di beberapa lini, kesejahteraan buruh masih harus ditingkatkan.

“Saat ini UMK di ring 1 sudah tinggi. Tapi di luar ring 1, masih harus dibangun komunikasi intensif antara pemerintah kota kabupaten dan juga pengusaha terkait UMK,” kata Khofifah.

Tapi, untuk permasalahan UMK tersebut, ketiga pihak yaitu pengusaha dan buruh serta pemerintah harus sama-sama ada komitmen untuk meningkatkan produktivitas.

Sehingga dengan peningkatan produktivitas ada peningkatan hak-hak buruh.

“Ketiganya harus membangun komitmen untuk meningkatkan produktivitas mereka dan memberikan hak-hak buruh dengan upah hidup minumum, bukan hanya upah kerja,” ucapnya.

Selain itu Khofifah juga mendorong aktivasi bipartit dan tripartit.

Agar komunikasi tidak hanya dilakukan saat hari buruh saja.

Melainkan rutin sehingga bisa ada kanalisasi inspirasi dan pemecahan masalah.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *