,

Blak-blakan Suami Penembak dr Letty: Dengar Bisikan dan Pakai Obat

oleh

IniBerita.News – dr Ryan Helmi (41) blak-blakan mengaku menembak mati istrinya, dr Letty Sultri (46). Dokter spesialis kecantikan ini memiliki ‘catatan hitam’ yang sungguh mengejutkan.

Helmi dan Letty awalnya sempat cekcok mulut yang dipicu masalah hubungan rumah tangganya di Klinik Azzahra, Cawang, Jakarta Timur pada Kamis 8 November 2017. Helmi menolak digugat cerai oleh sang istri.

Tiba-tiba Helmi dengan brutal memberondong Letty dengan 6 kali tembakan pukul 14.30 WIB. Letty pun tewas seketika. Tanpa belas kasihan, Helmi meninggalkan jasad istri yang telah dinikahinya selama 5 tahun itu.

Helmi kemudian menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Dia lalu diamankan oleh polisi jaga karena membawa senjata api di tasnya. Polisi menemukan 2 pucuk senjata api di dalam tas dr Helmi saat itu. Senpi rakitan itu berjenis revolver.

Kepada polisi, Helmi mengaku telah menghabisi nyawa istrinya. Helmi mengaku melakukan aksi kejam itu karena mendapat bisikan. “Sementara ini yang bersangkutan mengaku ada bisikan untuk membunuh istrinya,” kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan saat dihubungi detikcom pada Kamis 9 November 2017.

Keterangan Helmi ditindaklanjuti oleh polisi. Dia akan diperiksa kejiwaannya untuk memastikan kondisi Helmi. “Nanti dari psikolog (untuk mengetahui kondisi kejiwaannya),” ujar Argo.

Baca Juga : Senyum Bahagia Kahiyang Lepas Keluarga Mertua Pulang

Mendengar pengakuan Helmi, keluarga angkat bicara. Keluarga Letty yakin Helmi sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa. “Pelaku saya lihat normal-normal saja. Kalau orang gangguan jiwa, tahu sendiri, kalau gila pasti nembak sembarangan. Ini nggak lo, ini tepat sasaran dan mematikan. Tiga lubang di perut dan tiga di dada. Saya lihat fotonya,” ungkap Afifi, kakak kandung dr Letty, saat diwawancarai detikcom di rumah duka di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11/2017).

Selain tes kejiwaan, Helmi menjalani tes urine. Helmi dibawa ke Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Metro Jaya sekitar pukul 20.40 WIB. Setelah menjalani tes urine, Helmi langsung dibawa ke ruang pemeriksaan di gedung Reskrimum Polda Metro Jaya. Helmi memalingkan muka ketika wartawan menyoroti wajahnya.

“Saya nggak mau ada wartawan ah,” kata Helmi sambil bersembunyi di balik badan anggota yang mengawalnya.

Helmi saat itu terlihat kusam. Baju kemeja yang dikenakannya tampak lusuh. Ia terus menundukkan wajah saat diikuti wartawan.

Setelah diperiksa, hasil tes urine Helmi positif mengandung benzodiazephine. Benzodiazepine adalah obat yang dikategorikan sebagai obat psikoaktif. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi gejala gangguan psikologi seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan insomnia.

“Hasil tes urinenya positif benzo. Untuk jenis obatnya masih kami dalami,” kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta kepada detikcom, Jumat (10/11/2017).

Helmi juga telah mengaku mengkonsumsi obat penenang. Ia mengklaim konsumsi obat penenang sesuai resep dokter.
“Iya saya memang pakai obat penenang, alganax,” kata Helmi kepada petugas semalam.

Jejak-jejak Helmi terus ditelusuri polisi. Polisi menyebut dr Helmi telah merencanakan pembunuhan terhadap dr Letty. Ini dibuktikan dengan persiapan senjata api dari rumahnya. “Dia sudah mempersiapkan senjata api dari rumahnya. Dalam perjalanan mendekati Klinik Azzahra, dia memasukan peluru ke senpi, karena sebelumnya belum dia isi peluru senpinya itu,” ujar Argo.

‘Catatan hitam’ Helmi dibongkar polisi. Helmi kepada polisi juga mengaku pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Letty. Seorang anggota yang enggan disebutkan namanya mengatakan tersangka sering melakukan KDRT terhadap korban. Korban bahkan disebut-sebut sering kabur dari suaminya karena sudah tidak tahan. “Dia pernah seret istrinya dari luar ke dalam rumah, ‘Itu yang buat istri saya mau cerai’,” kata anggota itu sambil menirukan omongan pelaku. Akibat ulahnya yang ringan tangan, Helmi akhirnya digugat cerai Letty.

Tidak hanya itu, Helmi juga pernah tersangkut kasus dugaan pemerkosaan. Namun, kasus tersebut tidak dilaporkan korban ke polisi.

Kini, aksi brutal Helmi diselidiki polisi. Helmi diancam dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara. “Tersangka dikenai pasal 340 dan 338 KUHP (tentang pembunuhan berencana),” kata Argo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *