2018 Diramalkan Akan Banyak Terjadi Gempa, Ini Penjelasannya!

oleh

2018 Diramalkan Akan Banyak Terjadi Gempa, Ini Penjelasannya!

IniBerita.News – Akhir-akhir ini kita sering merasakan terjadinya gempa bumi diberbagai belahan bumi. Berdasarkan keterangan dari para ilmuan asal Amerika, di tahun 2018 akan lebih banyak gempa besar yang akan terjadi di bumi. Hal ini dikarenakan akibat aktivitas bumi yang mengakibatkan gempa bermagnitudo dan perubahan kecepatan rotasi bumi mengakibatkan meningkatnya frekuensi guncangan di berbagai belahan dunia. Peningkatan aktivitas sesimik bumi akan terjadi terutama di daerah tropis. Bumi sebenarnya melakukan rotasi yaitu bumi berputar pada porosnya yang tidak bisa kita rasakan secara langsung. Perputaran bumi tidak bisa kita rasakan langsung karena kita berada di permukaan bumi yang sangat luas. Dampak dari rotasi bumi yang bisa kita rasakan secar alangsung yaitu adanya siang dan malam yang diakibatkan oleh perputaran bumi dari timur ke barat atau pergerakan yang melawan arah jarum jam. Pergerakan rotasi bumi akan menjadi semakin melambat karena diakibatkan oleh gaya gravitasi dari planat bulan. Selain itu perubahan rotasi bumi juga sangat kecil yang dapat memberikan perubahan pada panjang waktu dalam sehari hanya dengan hitungan mili detik.

Ilmuwan Jelaskan Tentang Bencana

Ilmuan mengklaim ada hubungan antara aktivitas seismik bumi dan meningkatnya magnitude guncangan dengan kecepatan rotasi bumi. Gejala ini diteliti oleh dua ilmuan yaitu Rebecca Bendick of The Universiry of Montana dan Roger Bilham of The Univesity of Colorado. Kedua ilmuan mengklaim jika aktivitas inti bumi menjadi salah satu penyebab terjadinya peningkatan jumlah gempa yang akan terjadi di tahun 2018. Meski hubungan antara meningkatnya magnitude guncangan dan aktivitas seismik bumi dengan frekuensi kecepatan rotasi bumi belum dapat dijelaskan secara gamblang oleh Bilham dan Bendick. Kedua ilmuan ini telah merekam gempa bumi yang terjadi sejak tahun 1990 dengan magnitude 7 skala richter atau dengan magnitude guncangan yang lebih besar. Dari hasil penelitian tersebut, kedua iluan ini menemukan bahwa memang ada hubungan antara jumlah guncangan yang terjadi dengan rotasi perputaran bumi. Gempa akan lebih sering terjadi saat terjadi perubahan kecepatan rotasi bumi.

Baca Juga : 6 Gangguan Kesehatan Akibat Penggunaan Teknologi

Selain itu, mereka juga menemukan bahwa satu setengah abad terakhir rotasi perputaran bumi mengalami perubahan yaitu semakin melambat signifikan secara periodik dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Mereka mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu selama peride tersebut, bumi akan mengalami gempa lima tahunan yang lebih sering dan dahsyat. Selain itu, bumi juga aan mengalami peningkatan gempa bumi yang signifikan, jika saat ini hanya sekitar 6 gempa bumi dahsyat yang akan terjadi, maka di tahun 2018 akan terjadi sebanyak 20 kali gempa dahsyat yang akan mengguncang bumi seperti yang dijelaskan oleh Billham. Meski sangat sulit memprediksi di mana gempa akan terjadi, namun Billham mengungkapkan bahwa prediksi terjadinya gempa dahsyat akan terjadi di daerah sekitar garis khatulistiwa di mana sekitar 1 milyar orang hidup di sana.

Baca Juga : Aksi Maling di Bukittinggi Jadi Viral, Berikut Kronologinya!

Meski demikian, seorang ahli dari Selandia Baru menentang anggapan kedua ilmuan asal Amerika Billham dan Bendick terkait hubungan gempa dan kecepatan rotasi bumi. Menurut Dr. Virginia Toy yang merupakan seorang profesor Geologi dari Universitas Otago menghubungkan suatu fenomena alam dengan fenomena lainnya bukan merupakan hal baru dan sudah terjadi. Selain itu, seorang dosen Geologi Tektonik dari Canterbury University, Dr Tim Stah mengatakan jika terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa adanya penelitian lain yang dilakukan oleh peara ahli dan ilmuan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *